• 1.jpg
  • 2.jpg
  • 3.jpg
  • 4.jpg
  • 5.jpg
  • 6.JPG
  • 7.jpg
 
 
 
 
You are here:: Liputan MSCI Info Pilkada ’Dinasti’ Bupati Aminuddin Maju Pilkada
 
 

’Dinasti’ Bupati Aminuddin Maju Pilkada

Surel Cetak PDF

PROBOLINGGO – ’Dinasti’ Hasan Aminuddin, Bupati Probolinggo periode 2007-2012 sudah hampir bisa dipastikan maju dalam pilkada 2012. Setelah sejumlah partai non-parlementer mengusung Puput Tantriana Sari atau biasa dikenal dengan Tantri Hasan Aminuddin (istri Bupati Hasan Aminuddin) sebagai bakal calon (balon) bupati, sekarang giliran PKB mengusung Hafidz Aminuddin, ketua DPC PKB Probolinggo yang juga kakak kandung Hasan Aminuddin.

Persaingan di antara ’Dinasti Aminuddin’ antara Hafidz Aminuddin dan adik iparnya, Tantri Hasan Aminuddin menjadi perhatian publik Probolinggo. Di luar keduanya masih ada balon bupati lainnya yakni, Salim Qurays, Ketua DPC PPP yang juga Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo.

Kepastian PKB mengusung Hafidz Aminuddin dalam Pilkada 2012 mendatang itu terungkap dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) di Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani (SAQO), Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Minggu (25/9). Sejak pembukaan Muskercab, isyarat bakal munculnya nama Pengasuh Pesantren SAQO itu sebagai balon bupati sudah terlihat.

Ketua Panitia Muskercab, Ribut Fadilah mengatakan, PKB harus siap mengusung calon dalam Pemilukada 2012 mendatang. ”Sudah dua kali PKB sukses mengantarkan kadernya, Bapak Hasan Aminuddin menjadi Bupati Probolinggo,” ujarnya.

Pada Pemilu 1999 lalu, PKB meraih 19 kursi di DPRD. Dan pada Pemilu 2004 lalu, PKB meraup 15 kursi di DPRD. Melalui Pemilu 2009, perolehan kursi PKB di DPRD turun menjadi 9 kursi. Namun Ribut memastikan, jumlah 9 kursi PKB ditambah 1 kursi PKS yang tergabung dalam FKB DPRD masih sanggup mengusung balon bupati sendiri. ”Dengan 10 kursi atau setara 20 persen, FKB bisa mengusung calon sendiri,” ujarnya.

Sekretaris DPC PKB, Shofwan Huzaimi bahkan langsung menyebutkan nama, yang bakal diusung sebagai balon bupati. ”Mungkin rekom tertuju pada Ketua Tanfid (Hafidz Aminuddin, Red.), nanti kita amankan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPW PKB Jatim, Masud Adnan saat sambutan mengatakan, dengan mengusung Hafid Aminuddin, berpeluang memenangi Pilkada 2012. ”Ada kader yang full legitimasi karena beliau Ketua Tandfid PKB, tokoh masyarakat yang kharismatik, dan dalam bidang keagamaan adalah pemimpin thoriqot dengan pengikut hingga ratusan ribu,” ujarnya.

Selaku Ketua Desk Pilkada PKB Jatim, Masud Adnan mengatakan, pada 2010-2011 lalu pihaknya menangani 19 Pilkada di Jatim. ”Calon yang didukung PKB menang di 9 kota/kabupaten,” ujarnya. Pada Pilkada 2012-213 ini di Jatim bakal digelar 19 Pilkada. ”Kami menargetkan menang di 11 kota/kabupaten termasuk di Kabupaten Probolinggo,” ujar Masud.

Merasa ”di atas angin”, Masud pun membuka diri bagi Parpol lain yang mau koalisi dengan PKB. ”Yang mau mendampingi (Hafidz Aminuddin, Red.) cepat-cepat merapat,” ujarnya.

Rekomendasi PKB yang mengusung KH Hafidz Aminuddin sebagai balon bupati bakal ”bertabrakan” dengan bakal majunya Tantri Hasan Aminuddin. Bupati Hasan Aminuddin sendiri mengaku, belum bisa berkomentar soal siapa yang bakal didukungnya dalam Pemilukada 2012 mendatang.

”Soal siapa yang saya dukung sebagai pengganti saya pada Pemilukada 2012, baru akan saya nyatakan pada 20 Februari 2012 mendatang,” ujar bupati, beberapa waktu lalu. Momen 20 Februari 2012 itu bertepatan dengan permohonan untuk mengakhiri jabatan sebagai bupati periode 2007-2012.

Sementara itu nama Tantri Aminuddin ”berkibar” setelah sejumlah partai non parlementer (tidak mempunyai kursi di DPRD) mengusung nama Ketua TP PKK Kab. Probolinggo itu sebagai balon bupati. Berkali-kali kumpulan partai gurem yang tergabung dalam ”Komitmen” (Koalisi Mendukung Tantri Menang) itu menggelar pertemuan untuk merapatkan barisan.”Calon yang paling tepat menggantikan Bupati Hasan Aminuddin adalah orang yang paling dekat yakni, Ibu Tantri Aminuddin,” ujar Dedy Suyanto, juru bicara Komitmen.

Di luar kedua balon itu, muncul nama lain Salim Qurays. Wakil Bupati yang juga Ketua DPC PPP bakal diusung partai berlambang kakbah itu dalam Pemilukada. Sementara itu dua parpol besar seperti Partai Golkar dan PDIP hingga kini belum menyuarakan balon bupati. ”Golkar dan PDIP tentu saja juga punya hak mengusung calon. Siapa calon mereka, tanya saja ke Golkar dan PDIP,” ujar Bupati Hasan. isa

 

Kabar Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah menggunakan ‘politik dinasti’ untuk memperkuat pundi-pundinya kuat mendengung pasca Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan korupsi di trah Chasan-- nama ayah Atut-- ini. Di Jawa Timur ‘politik dinasti’ juga makin menjadi tren. Terbaru, Pilkada Kabupaten Probolinggo 2012 nanti, istri dan kakak kandung bupati berkuasa bakal bertarung.

Oleh Ikhsan Mahmudi-Asepta Yoga Permana

Meski baru akan dihelat 2012 nanti, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mulai menjadi perbincangan hangat. Tantri Hasan Aminuddin dan KH Hafidz Aminuddin-- istri dan kakak kandung Bupati Probolinggo yang kini berkuasa, Hasan Aminuddin-- dipastikan ikut meramaikan bursa Kota Mangga itu.

Politik dinasti-- keluarga bupati/walikota ikut bertarung memperebutkan kursi lagi—bak menjadi tren di Jatim. Pada Pilkada 2010 di Sidoarjo, Emy Susanti Hendarso, istri Bupati Sidoarjo Win Hendarso periode 2005-2010 juga maju menjadi cabup meskipun akhirnya kalah.

Sedangkan di Kediri, istri tua Bupati Kediri periode 2005-2010, Sutrisno yakni Haryanti menjadi Bupati Kediri periode 2010-2015 mengalahkan istri mudanya, Nurlaila.

Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Hariyadi membenarkan sekarang ‘politik dinasti’ sedang tren, karena menurutnya strategi ini cukup ampuh untuk mempertahankan kekuasan. Bupati yang sudah menjabat dua periode dan tidak bisa mencalonkan diri lagi, tentunya sudah menyiapkan jauh-jauh hari ‘penggantinya’ sebelum dirinya lengser.

Seperti calon incumbent, tambah dia, keluarga Bupati, khususnya istri Bupati bisa melakukan promosi ‘gratis’ dengan memanfaatkan program pemerintah kabupaten. Setiap ada kegiatan pemkab yang melibatkan publik, bisa dipastikan Bupati akan mengajak istrinya, karena secara tidak langsung dia mengenalkan istrinya ke masyarakat.

“Agar bisa sukses, tidak seketika rencana keluarga Bupati maju pilkada muncul, tentu dengan persiapan yang matang. Jauh-jauh hari, istri Bupati jelas melakukan promosi melalui program-program Bupati. Setiap ada kegiatan publik bisa dipastikan bakal mengajak istrinya,” jelasnya.

Tapi, ketika ada dua keluaraga dari Bupati yang maju menjadi cabup seperti di Probolingo, menurut Haryadi yang juga dosen di FISIP Unair ini, tidak harus dimengerti sebagai perpecahan. Ini merupakan strategi untuk memecah suara lawan, dalam hal ini Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo, Salim Qurays yang juga akan maju ke Pilkada Probolinggo 2012 nanti. “Melalui ekspos memang publik dibuat seakan melihat ada perpecahan di internal keluarga mereka, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Ini bagian dari strategi,” tandasnya.

Haryadi menilai, khusus kasus di Probolinggo, Bupati pasti akan menjagokan salah satu diantara istri atau kakaknya. Tantri yang otomatis menjadi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Probolinggo jelas banyak dikenal dari berbagai kegiatan Bupati, sedangkan Hafidz merupakan Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kabupaten Probolinggo sekaligus pengasuh Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani (SAQO) di Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Lalu siapakah yang bakal dijagokan?

“Jika dua-duanya telah lama disiapkan, sosok yang memiliki kekuatan besar yang akan didukungnya. Bisa istrinya yang dijagokan, sedangkan kakaknya untuk memecah suara lawan. Atau bisa juga sebaliknya. Probolinggo pasti akan belajar banyak dari kasus Sidoarjo yang istrinya gagal menjadi Bupati,” ujar Haryadi.

Di Sidoarjo, menurut dia, mantan Bupati Win Hendarso sebelumnya menyiapkan Bambang Julianto (Kepala Dinas PU dan Bina Marga Sidoarjo) maju menjadi cabup menggantikan dirinya. Tapi, Win kelimpungan ketika Bambang meninggal, sehingga dengan tiba-tiba memunculkan nama istrinya sebagai calon yang dijagokannya. “Politik Sidoarjo karena kecelakaan,” ujarnya.

Kendati demikian, menurut dia, berbagai keadaan masih bisa terjadi di Probolinggo, karena pilkada sendiri masih hampir setahun lebih. Bisa saja nanti, salah satu dari dua ‘Dinasti Aminuddin’ ini mengundurkan diri, dan melimpahkan suaranya kepada keluarga Aminuddin yang bertahan, atau bisa dikatakan strategi ‘humanis.’

Sementara itu, mencuatnya dukungan terhadap Tantri Hasan Aminuddin yang memiliki nama asli Puput Tantriana sejak pertengahan 2011 silam. Sejumlah partai non-parlemen menyuarakan Tantri maju sebagai bakal calon (balon) bupati.

Berkali-kali kumpulan partai gurem yang tergabung dalam “Komitmen” (Koalisi Mendukung Tantri Menang) itu menggelar pertemuan untuk merapatkan barisan. “Calon yang paling tepat menggantikan Bupati Hasan Aminuddin adalah orang yang paling dekat yakni, Ibu Tantri Aminuddin,” ujar Dedy Suyanto, juru bicara Komitmen.

Tanda-tanda Tantri bakal maju dalam Pilkada juga terlihat dari semaraknya poster perempuan kelahiran Ponorogo itu di sepanjang jalan raya Tongas hingga Paiton sejauh 56 kilometer (km). Kantor Penanaman Modal dan Perizinan pun mencatat, pengajuan izin pemasangan 377 papan reklame bergambar Bupati Hasan didampingi istrinya, Tantri.

Papan reklame bergambar Wabup Salim Qurays menempati ranking dua dari segi jumlah. Kantor Penanaman Modal dan Perizinan mencatat, sebanyak 25 papan bergambar Salim yang juga Ketua DPC PPP itu dipasang di sepanjang jalan nasional.

Di dunia perpolitikan lokal Probolinggo, nama Hafidz sebenarnya masih baru. Hafidz menapaki politik praktis dengan menjadi Ketua (Tanfidz) DPC PKB Kabupaten Probolinggo melalui Musyawarah Cabang (Muscab) PKB, Juli 2010 silam. Selama ini kiai yang gemar bersarung-berkopiah dan berbaju putih itu dikenal sebagai pemimpin thoriqot (Manaqib) Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Ia biasa memimpin ritual Manaqiban dengan puluhan hingga ratusan ribu jamaah.

 

Jadi Penonton

Bagaimana sikap Bupati Hasan Aminuddin terkait bakal majunya sang istri (Tantri Hasan Aminuddin) dan kakak kandungnya (Hafidz Aminuddin) dalam Pilkada 2012 mendatang?  “Kalau ditanya siapa yang saya dukung, sampai detik ini saya belum menentukan pilihan,” ujar mantan Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo itu.

Bupati baru akan menentukan sikap (pilihan) pada 20 Februari 2012 mendatang, bersamaan momen pengajuan permohonan untuk mengakhiri jabatan sebagai Bupati periode 2007-2012.

Ketika didesak, mosok sebagai politisi belum menentukan sikap, Hasan terbahak-bahak. “Lho saya bukan pengurus Parpol lokal Probolinggo. Karena itu saya memilih sebagai penonton saja,” ujarnya.

Sebagai penonton, Bupati hanya ingin mengamati, apakah perilaku politisi sudah sesuai syariat (agama) dan peraturan perundang-undangan. “Saya selalu menyerukan agar berpolitik dengan akhlaqul karimah (berperilaku mulia, Red.),” ujar Ketua Ormas Nasdem Jatim itu.

Karena itu apa pun keputusan Parpol terhadap balon bupati siapa pun, Hasan mengaku bakal mengapresiasinya. “Pilkada memang hajatannya Parpol, saya mengapresiasinya,” ujarnya. Disinggung bakal majunya Tantri dan Hafidz, Bupati menegaskan, belum final. “Semuanya belum final, soalnya belum melalui keputusan internal Parpol,” ujarnya.

Lebih lanjut dia berpendapat, lebih baik Pilkada Kabupaten Probolinggo diikuti dua calon saja. Tapi kalau dari sisi demokrasi, semakin banyak calon, pemilih makin banyak pilihan. Dikatakan tidak ada dasar hukum yang bisa membatasi hak warga negara untuk mencalonkan diri.*



Tambahkan halaman ini ke jejaring sosialmu